Michel Platini Dalam Pusaran Politik Kotor FIFA

Michel Platini sempat menjadi kandidat Presiden FIFA yang baru. Ia juga sempat berjanji menjauhkan FIFA dari segala hal berbau politik. Apes, justru Platini sendiri yang terseret pusaran politik itu.

“Kita harus peduli soal permainan, bukan politik,” ucap Platini sebelum dimulainya pertemuan Komite Eksekutif FIFA di Zurich, 24 September lalu. Kala itu, Platini dengan tegas menyatakan untuk maju dalam pemilihan Presiden FIFA yang baru pada 26 Februari 2016.

Presiden FIFA sebelumnya, Sepp Blatter, digoncang skandal dugaan korupsi. Blatter menyatakan diri mundur pada bulan Juni lalu, tapi masih tetap memimpin FIFA sampai kongres luar biasa diadakan.

“Bersama saya, tidak akan ada politik. Bersama saya, ini semua soal sepakbola, bukan politik,” kata Platini lagi, menegaskan janjinya.

Ironis memang, karena pernyataan Platini lebih mirip dengan janji-janji seorang politikus. Ketika Platini berniat untuk mencalonkan diri menjadi Presiden FIFA, eks pesepakbola asal Prancis, Eric Cantona, sudah memberikan peringatan.

Cantona, yang dikenal kritis terhadap isu-isu sepakbola dan juga sosial, menyebutkan bahwa ketika sudah berada di level atas, seperti di FIFA, sepakbola sebenarnya tidak pernah benar-benar bersih dari politik.

Lebih lanjut lagi, Cantona juga menyebut Platini tidak lebih baik daripada Blatter. Menurutnya, memilih keduanya sama seperti dihadapkan pada dua buah penyakit di saat bersamaan.

“Jika sudah sampai level tersebut, segala sesuatunya sudah jadi politik,” ujar Cantona kepada Daftar Sbobet.

“Platini adalah pemain hebat dulu, sosok yang hebat di dunia sepakbola. Tapi, sekarang ini dia hanyalah seorang politikus, sama seperti yang lainnya.”

“Ketika Anda disuruh memilih di antara sampar atau kolera, lebih baik panggil dokter saja,” kata Cantona.

Kata-kata Cantona terbukti benar. Belakangan, diketahui bahwa Platini menerima dana siluman dari Blatter pada tahun 2011. Dana sebesar 2 juta franc Swiss itu, kata Platini, adalah bayarannya sebagai konsultan Blatter. Namun, di tengah penyelidikan skandal korupsi yang tengah dilakukan terhadap FIFA sepanjang tahun ini, Platini mau tak mau ikut terseret.

Komite Independen Etik FIFA sempat bakal menjatuhkan larangan sanksi beraktivitas di dunia sepakbola seumur hidup untuk Platini. Namun, pada akhirnya, hukuman yang dijatuhkan lebih ringan. Bersama Blatter, Platini “hanya” dilarang beraktivitas di dunia sepakbola selama delapan tahun.

Sebagai Presiden UEFA, Platini telah membuat beberapa kebijakan. Ia dinilai telah membuat UEFA menjadi lebih modern usai menggantikan Lennart Johansson. Meskipun demikian, ia masih tetap percaya bahwa sepakbola harus menjaga nilai-nilai tradisionalnya. Sebagai contoh, ia masih keukeuh menggunakan asisten wasit tambahan di turnamen antarklub Eropa, alih-alih menggunakan teknologi garis gawang.

Dengan segala kebijakannya sebagai Presiden UEFA, janji-janjinya dalam kampanye untuk menjadi Presiden FIFA, plus mengingat Piala Eropa tahun depan akan dihelat di negara kelahirannya, hukuman untuk Platini menjadi tambah ironis.

“Ada banyak orang baik di komite eksekutif. Cuma beberapa saja yang korup,” kata Platini, beberapa bulan lalu, masih dari janji kampanyenya.